BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Januari 2015

Sambut Kemaritiman

Euforia kemenangan Jokowi dan JK masih kental terasa. Namun euforia ini diikuti dengan tugas-tugas Jokowi untuk segera menyelesaikan berbagai permasalahan di Indonesia. 

Termasuk permasalahan yang mendera kemaritiman Indonesia yang selama ini sangatlah terabaikan. Kemiskinan, ketimpangan sosial, sulitnya birokrasi, infrastruktur, yang melekat pada wajah perekonomian masyarakat pesisir semakin memperburuk citra kelautan Indonesia. 

Padahal menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), potensi kelautan Indonesia sangatlah besar, yaitu sebesar USD1,2 triliun per tahun. Seolah tertimpa durian runtuh, dibentuknya Menteri Koordinator Kemaritiman sangat disambut baik masyarakat. 

Menko ini akan membawahkan Kementerian Perhubungan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sehingga dengan adanya pos baru di sektor maritim ini diharapkan akan memaksimalkan potensi laut Indonesia yang secara nyata sangatlah besar adanya. 

Namun pekerjaan di bidang kemaritiman tidaklah mudah. Selain dituntut mengerti detail dunia maritim Indonesia, juga harus paham bagaimana adat istiadat masyarakat pesisir yang selama ini cenderung boros bisa diubah paradigmanya agar bisa meningkatkan sosial ekonomi mereka. 

Dan yang terpenting, Menko Kemaritiman harus survive dalam menyelesaikan masalah atas kompleksnya dunia kemaritiman Indonesia. Adapun fokus utamanya adalah sebagai berikut. Pertama, meningkatkan produktivitas laut dan perikanan. Kedua, memperbaiki infrastruktur maritim. Ketiga, membereskan birokrasi dan hukum maritim. Perizinan usaha perikanan yang berbelit-belit serta sarat dengan pungutan liar memperburuk dunia maritim Indonesia. 

Keempat, membangun SDM berkualitas. Kelangkaan sumber daya manusia berkualitas menjadi faktor runtuhnya maritim Indonesia. Keempat kunci ini dirasa akan mengembalikan suasana maritim Indonesia yang telah lama hilang sehingga kesejahteraan masyarakat akan meningkat dan laut akan jaya. Jalesveva Jayamahe ! ? 

Ridwan Fadil Arif 
Mahasiswa Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran


dimuat di Koran SINDO, 5 Januari 2015


Menghadapi MEA

Di dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar harus memiliki karakter yang kuat. 

Salah satu yang dapat dilakukan untuk membangun karakter yang kuat tersebut adalah dengan pendidikan karakter. Pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hard skill, tetapi juga pada soft skill adalah salah satu hal yang dapat membentuk karakter suatu bangsa. Pendidikan yang hanya berorientasi pada hard skill , yaitu menghasilkan lulusan yang hanya memiliki prestasi akademik, harus mulai dibenahi. 

Sekarang pembelajaran juga harus berbasis pada pengembangan soft skill (interaksi sosial), sebab ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak bangsa sehingga mampu bersaing, beretika, bermoral, sopan, santun, disiplin, dan berinteraksi dengan masyarakat. Pendidikan soft skill (interaksi sosial) bertumpu pada pembinaan mentalitas agar peserta didik dapat menyesuaikan diri dengan realitas kehidupan. 

Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill) saja, tetapi juga oleh keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Dalam penerapannya, soft skill tidaklah mudah, sebab banyak tenaga pendidik tidak memahami maksud dari soft skill dan cara penerapannya. 

Soft skill merupakan bagian keterampilan seseorang yang lebih bersifat kehalusan perasaan seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya. Akibat yang bisa dirasakan adalah perilaku sopan, disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerja sama, dan lainnya. Keabstrakan kondisi tersebut mengakibatkan soft skill t idak mampu dievaluasi secara tekstual karena indikator-indikator soft skill lebih mengarah pada proses eksistensi seseorang dalam kehidupannya. 

Dengan adanya pendidikan karakter melalui cara diubahnya sistem pendidikan di Indonesia menjadi sistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada hard skill, tetapi juga pada soft skill, diharapkan bangsa Indonesia siap untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN di tahun 2015. 

Teguh Tresna Puja Asmara 
Mahasiswa Ilmu Hukum, Fakultas Hukum. Universitas Padjadjaran


dimuat di Koran SINDO pada 5 Januari 2015

Kamis, 13 November 2014

Mencetak Profil-profil Qurani Pendobrak Peradaban

“’Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.’ Lalu Rasulullah saw. Ditanya: ‘Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘yaitu Ahlul Quran (Orang yang membaca atau menghafal Al-Quran dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.’” (HR.Ahmad)
Konversi Waktu: Menyelaraskan Produktivitas dan Interaksi Qurani
Carut marut globalisasi telah membuka jutaan lubang hitam dalam hati manusia. Probabilitas akses terhadap wahana-wahana sarat maksiat semakin tinggi: hanya dengan menekan tuts-tuts keyboard laptop atau komputer seseorang dapat mendapatkan koneksi terhadap miliaran bentuk informasi sehingga menyebabkan orang tersebut rela mengorbankan waktunya menyelam bebas dunia fana dalam dunia yang sudah fana ini. Berbagai bentuk hobi yang seharusnya dijadikan sebagai salah satu sarana perwujudan potensi dan bakat manusia terkadang malah dijadikan prioritas nomor satu dalam hidup: hobby is life, life is hobby! Ketertarikan manusia terhadap berbagai produk-produk duniawi memang bukan suatu hal yang salah asal hal tersebut proporsional, namun terkadang fenomena berlebihan dalam hal-hal yang diperbolehkan justru membuka kubangan baru yang mengubur berbagai kesempatan-kesempatan mendapatkan kelezatan-kelezatan ukhrawi. Salah satu potensi tersebut adalah menghafal dan bermesraan dengan Al-Quran.
Berikut nasihat dari Fudhail bin Iyadh dari generasi Tabi’in :
Penghafal al-Quran adalah pembawa bendera Islam. sangat tidak layak baginya larut dalam senda guarau sebagaimana orang-orang yang bersenda gurau, dan tidak layak baginya larut dalam keadaan alpa seperti orang yang alpa. Tidak layak juga baginya larut dalam kelalaian dan permainan bersama orang yang lalai.”
Memang menjadi keluarga Allah bukanlah sesuatu yang didapatkan dengan mudah. Untuk menjadi spesial, usaha pun harus spesial. Oleh karena itu seorang huffadz (penghafal/penjaga Al-Quran) harus menyeleksi prioritasnya. Tentu menghafal Quran bukan perkara yang mudah sehingga diperlukan waktu-waktu khusus untuk bermesraan dengan kitab suci tersebut. Konversi waktu, dari hal-hal yang bersifat senda gurau dan menyudutkan kita ke dalam keadaan alpa dan lalai menjadi sebuah quality timekhusus untuk Quran. Bagaimana jika saking sibuknya kita tidak dapat meluangkan waktu pada hari-hari kerja kita? Saya mengenal seorang akhwat yang hafal Quran, beliau mengonversi waktu tidurnya di malam hari khusus untuk berinteraksi dengan ayat-ayat Allah sehingga tidurnya pun hanya 2-3 jam sehari. Ya, menghafal memang perlu waktu, namun waktu yang kita korbankan untuk menghafal tak akan pernah kita sesali.
Inisiasi Bi’ah Quraniyyah
Teringat nasihat syeikh saya di pesantren yang kurang lebih redaksinya : ‘Mempelajari imu tarbiyatul aulaad (membina anak) sejatinya bukan ketika kita sudah memiliki anak, namun ketika kita menentukan calon ibu anak yang hendak kita bina’. Inti dari nasihat tersebut adalah mempersiapkan generasi penerus sejak dini. Keluarga apa yang ingin dibangun? Pasangan seperti apa yang ingin dijadikan pendamping hidup untuk membina anak-anak kita seperti apa yang dicita-citakan? Jawaban ini dapat anda temukan dalam buku “10 Bintang Penghafal Al-Quran” yang menceritakan suatu keluarga yang seluruhnya adalah huffadz, namun tak berhenti sampai situ, setiap anggota keluarga memiliki peran dan kontribusi terhadap lingkungannya, entah itu dengan menjadi akademisi, aktivis sosial politik dan sebagainya. Dalam National Leadership Camp Program 2014 Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis, Dra. Wirianingsih, sang ibu dari kesepuluh anak tersebut bercerita bahwa salah satu prinsip beliau dalam mendidik keuarga adalah bagaimana menata waktu kita agar berkah dan bertambah setiap saat (ziyadatul khairi). Ibnu Qayyim berpesan bahwa ada tiga kunci untuk mendapatkan berkah setiap saat: jangan sampai terjadi kekosongan hati, jangan sampai terjadi kekosongan akal serta berkumpullah dengan orang-orang yang shaleh.
Dra. Wirianingsih bercerita bahwa yang menagih setoran hafalan Quran anak-anaknya setiap hari adalah beliau sendiri. Ya, kita perlu menginisiasi bi’ah Quraniyyah (lingkungan Qurani) mulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri.
Peradaban dan Para Huffadz: Kontekstualisasi Nilai Qurani dalam Tatanan Sosial
Huffadz. Mereka tidak hanya menghafal Quran, namun mereka mengontekstualisasikan esensi dari Al-Quran melalui kepribadian dan perilaku mereka. Tahukah engkau Izzudin Al-Qossam? Mereka tidak hanya hafal al-Quran, namun kobaran semangat berjihad mereka ketika membela tanah air mereka merefleksikan ayat-ayat Al-Quran tentang jihad dan qital yang mereka hafal. Tahukah engkau Sultan Mehmet II atau biasa dikenal dengan Muhammad Al-Fatih? Sifat-sifat semangat dalam menuntut ilmu, kepemimpinan serta intensitas ibadahnya merupakan penerapan dari ayat-ayat Al-Quran yang dihafalnya sehingga menggerakkan sang penakluk Konstantinopel itu untuk selalu terbangun di malam hari menegakkan qiyamul lail. Tahukah engkau Dra. Wirianingsih? Beliau merupakan seorang aktivis sosial politik yang aktif berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya, namun beliah juga seorang hafidzah. Beliau berprinsip bahwa seorang wanita itu menggendong anak di tangan kanannya sekaligus mengguncang dunia dengan tangan kirinya.
Mereka adalah para huffadz Quran yang meninggalkan artefak dalam sejarah peradaban, bukan hanya dengan kapabilitas mereka sebagai para ‘penghafal’ namun sebagai ‘penjaga’ nilai-nilai dalam Quran. Tidak hanya menjadi seseorang yang berkontribusi besar pada lingkungan dan peradaban namun menjadi ahlullah atau bagian dari keluarga Allah. Bukankan itu hal yang sangat mulia?
Bagaimana mau membangun peradaban jika tidak berkontribusi membangun masyarakat atau lingkungan sekitar? Bagaimana mau membangun masyarakat sekitar jika tidak membangun keluarga dengan profil Qurani seperti apa yang dicita-citakan? Bagaimana mau membangun keluarga Qurani jika tidak membangun diri sebagai pemuda dengan profil Qurani? Tulisan ini merupakan autokritik sekaligus motivasi untuk kita semua. Jika Al-Quran hidup di hati kita, maka segalanya akan terasa indah.

penulis: Muhammad Hamzah, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Emas Masih Menjadi Satu-Satunya Objek Investasi Yang Paling Menguntungkan

Investasi merupakan salah suatu bentuk cara terbaik seseorang yang ingin mengantisipasi kebutuhannya di masa yang akan datang. Setiap orang pasti menginginkan kebutuhan di masa depannya terpenuhi. Namun keadaan ekonomi yang berbeda-beda membuat laju pertumbuhan investasi ini terhambat. Banyak orang yang memiliki paradigma bahwa investasi hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya saja, padahal siapa pun bisa berinvestasi sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Kata investasi bukanlah hal yang asing di telinga kita, banyak orang menyamaartikan antara investasi dengan tabungan. Definisi investasi menurut Downes dan Goodman adalah investasi keuangan di mana seorang investor menanamkan uangnya dalam bentuk usaha pada waktu tertentu dari setiap orang yang ingin memperoleh laba dari keberhasilan pekerjaannya, sedangkan tabungan adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsikan.
Dari definisi di atas, terdapat perbedaan di mana investasi merupakan suatu bentuk penghasilan yang dikembangkan ke dalam suatu usaha tertentu dan berharap mendapatkan suatu manfaat di masa depan, sedangkan tabungan hanya merupakan bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi dan tidak dikembangkan lagi. Ada banyak jenis investasi yang tersedia, mulai dari investasi berupa uang, saham, properti, hingga emas yang kini mulai banyak digemari oleh para investor.
Saat ini, pentingnya berinvestasi sudah mulai banyak disadari oleh masyarakat, baik itu masyarakat kelas menengah ke atas maupun masyarakat kelas menengah ke bawah. karena pada dasarnya investasi tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya saja. Banyak orang cenderung ingin berinvestasi dari pada menabung, hal ini disebabkan oleh tingkat inflasi dan suku bunga yang berfluaktif, sehingga membuat masyarakat memutuskan untuk mengambil pilihan yang lebih menguntungkan. Permasalahan yang sering dihadapi oleh masyarakat menengah kebawah terutama yang ingin menginvestasikan kelebihan hartanya adalah kesulitan untuk menentukan barang apa yang akan dijadikan sebagai objek investasi. Maka dari itu harus ada barang atau komoditas yang menjanjikan keuntungan yang lebih apabila dijadikan sebagai objek investasi.
Kemajuan ekonomi yang tak terbendung membuat para investor bisa bergerak bebas untuk memilih sektor dan komoditas barang yang akan dijadikan sebagai objek investasi. Namun jika kita melihat pada kenyataannya, banyak orang yang berinvestasi hanya terbatas pada investasi modal berupa saham yang ada pada suatu perusahaan atau lembaga bisnis saja, padahal ladang investasi yang tersedia sangat banyak. Sehingga pola pikir masyarakat terhadap investasi hanya terbatas pada sekadar modal yang besar.
Untuk merubah paradigma tersebut, kini telah banyak berkembang investasi berupa emas. Emas merupakan logam mulia yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, karena itu emas sering dijadikan sebagai perhiasan sekaligus alat penyimpan kekayaan. Adapun kelebihan emas dibandingkan dengan komoditas yang lain diantaranya adalah bersifat liquid, merupakan alat lindung kekayaan terbaik, tidak dikenakan pajak pertambahan nilai, dan memiliki nilai jual yang tinggi.
Selain memiliki kelebihan di atas, emas juga masih memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh komoditas lain. kelebihan itu diantaranya adalah emas merupakan komoditas yang unik dan langka, emas merupakan logam mulia yang suplainya terbatas dan konsisten dan emas merupakan komoditas yang tahan terhadap inflasi serta kebal terhadap intervensi politik.
Emas adalah satu satu komoditas yang bisa ditimbun atau disimpan, sedangkan komoditas lain biasanya diproses untuk dikonsumsi kembali. Walaupun emas dijadikan perhiasan, pada akhirnya emas akan disimpan di laci rumah. Emas juga termasuk komoditas langka karena persediaannya di bumi sangat terbatas. Seluruh emas di dunia jika dikumpulkan di satu tempat hanya setara dengan tiga kali ukuran kolam renang Olimpic. Walaupun ada tambang emas yang menjadi penyuplai, namun jumlahnya tidak banyak yaitu hanya sekitar 1,7% per tahun. Artinya 1 gram emas sekarang tidak jauh berbeda dengan 1 gram emas pada zaman Romawi. Dengan kata lain, emas yang disimpan di rumah/bank sama saja seperti tambang emas di mata orang lain.
Emas semakin bernilai karena saat ini hampir seluruh negara di dunia mengalami inflasi mata uang, termasuk rupiah. Sebagai mata uang alternatif, emas punya keunggulan dibandingkan dengan uang kertas karena tidak bisa dimanipulasi kebijakan pemerintah. Emas menjadi sangat menarik karena adanya krisis utang sejumlah negara di dunia (termasuk negara adidaya AS) yang luar biasa besar yang pada akhirnya menjatuhkan nilai tukar mata uang negara tersebut. Berbeda dengan uang kertas, emas lebih kebal terhadap intervensi politik. Emas juga tahan terhadap gejolak inflasi sehingga logam mulia ini lebih menarik untuk dijadikan alat investasi dan pelindung nilai aset/harta.


Penulis: Aang Sanjaya, Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran
---------------------------

Minggu, 02 November 2014

Tantangan Kemandirian Industri Baja

Baja merupakan bahan utama hampir semua industri manufaktur di Indonesia, mulai dari industri perminyakan, otomotif sampai industri skala kecil dan menengah. Produksi baja nasional menjad salah satu indikator kemajuan ekonomi suatu negara. Suatu hal positif jika konsumsi baja selalu meningkat tiap tahunnya. Permintaan produk baja nasional mengalami pertumbuhan 5-7 persen pada 2014, dari permintaan produk baja nasional pada 2013 yang sebesar 11 juta ton.
Meskipun peran baja sangat vital bagi perkembangan perekonomian Indonesia, pemerintah selama ini tidak terlihat memberikan perhatian maksimal agar Indonesia dapat memenuhi konsumsi baja di dalam negeri secara mandiri. PT Krakatau Steel sebagai salah satu BUMN milik pemerintah adalah satu-satunya perusahaan dalam negeri yang menyuplai kebutuhan baja nasional. Meskipun PT Krakatau Steel merupakan harapan terbesar bagi Indonesia untuk mandiri dalam produksi baja, namun produksi baja oleh PT Krakatau Steel pada tahun 2013 sebesar 2,3 juta ton belum mampu mengimbangi kebutuhan baja nasional.
Adanya selisih antara produksi baja nasional permintaan baja nasional yang mencapai 11 juta ton, mengharuskan pemerintah mengimpor kekurangan tersebut dari negara lain. Hal yang lebih miris, untuk memproduksi baja tiap tahunnya, PT Krakatau Steel harus mengimpor pellet sebagai bahan baku dalam memproduksi baja dari swedia dan brazil. Bisa dikatakan bahwa saat ini industri baja nasional masih sangat rapuh dan sangat tergantung dengan negara lain.
Potensi bijih besi Indonesia bisa dibilang besar, yaitu sekitar 320 juta ton pertahun. Sayangnya kualitas bijih besi di Indonesia masih rendah. Ketidakmampuan Indonesia dalam mengolah bijih besi ini yang menyebabkan Indonesia belum bisa mandiri dalam memenuhi kebutuhan baja nasional. Dibutuhkan usaha ekstra dan penelitian yang instens agar mampu memanfaatkan potensi bijih besi Indonesia.
Diangkatnya presiden baru Republik Indonesia, Joko Widodo, membawa angin segar bagi industri baja nasional mengingat salah satu janji beliau adalah meningkatkan kemitraan antara industri dan perguruan tinggi dalam kerja sama R&D pengetahuan dan teknologi yang dapat diaplikasikan untuk memperkuat daya saing industri manufaktur nasional.
Untuk jangka pendek, pemerintah bisa menggandeng perusahaan asing untuk bergabung dengan Krakatau Steel agar mampu memingkatkan produksi dan terjadi transfer teknologi. Secara bersamaan pemeritah bisa tetap mengembangkan R&D, terutama di perguruan tinggi dengan memberi bantuan dana dan pusat-pusat riset di dalam perguruan tinggi dengan pengajar dari luar negeri yang sudah jauh lebih ahli. Selain itu, pemerintah juga harus merangsang R&D oleh pihak swasta dengan memberi insentif dan keringanan pajak.
Penulis: Wanda Yusuf Alvian, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Jumat, 31 Oktober 2014

Tahun Baru Islam, Umar, dan Momen Berhijrah

Kita baru saja memasuki 1 Muharram 1436 Hijriah, artinya kita baru saja memasuki tahun baru dalam penanggalan Islam (Hijriah). Memang, di dalam ajaran Islam tidak ada perayaan khusus untuk menyambut tahun baru ini. Namun, sering kali momen tahun baru ini menjadi momen refleksi dan introspeksi atas apa yang telah dikerjakan selama satu tahun.
Momen tahun baru ini juga sering kali disebut sebagai momen untuk berhijrah, karena penanggalan Hijriah ini dihitung sejak Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Mekkah al-Mukarromah menuju Madinah al-Munawwaroh.

Maka, tahun baru Islam berarti berhijrah, hijrah ini selain berarti peristiwa pindahnya Rasulullah dan para sahabat ke Madinah, namun dimaknai pula sebagai peristiwa berpindahnya seseorang dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik, dari gelapnya kejahiliyyahan menuju terang benderangnya cahaya Islam.
Karenanya, menarik untuk menyimak bagaimana hijrahnya para sahabat dari kejahiliyyahan menuju Islam, salah satunya adalah ‘Umar Ibn Khaththab, Khalifah Kedua Islam sekaligus pencetus penanggalan Hijriah.


***


‘Umar bin Khaththab, nama yang akrab didengar bagi umat Islam. Sahabat Nabi yang juga Khalifah Kedua Islam. Kisah hijrahnya ‘Umar ke dalam Islam merupakan kisah yang mahsyur. ‘Umar merupakan sosok yang disegani, berperawakan tinggi besar, seorang yang keras hingga lawan pun takut dibuatnya.

Potensi luar biasa ‘Umar bin Khaththab tentunya akan menjadi kekuatan besar bagi Islam, hingga Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, perkuatlah Islam dengan salah satu dari dua ‘Amr yang lebih Kau cintai: ‘Umar ibn Al Khaththab atau ‘Amr ibn Hisyam.” Maka, Allah lebih ridha ‘Umar Ibn Khaththab yang memeluk Islam ketimbang ‘Amr Ibn Hisyam alias Abul Hakam atau Abu Jahl.

Bermula dari suara adiknya, Fathimah binti Khaththab yang membacakan surah Thaahaa, ‘Umar marah hingga melukai adiknya. Namun, ia malah membaca lembaran surah Thaahaa yang dibaca adiknya. Di sinilah momen hidayah muncul. ‘Umar akhirnya mendatangi Rasulullah yang sedang berada di rumah Arqam Ibn Abi Arqam.
‘Umar sempat dihadang Hamzah Ibn Abdul Muthallib sebelum akhirnya bertemu Rasulullah dan mengatakan dua kalimat syahadat. Allahu Akbar! Maka inilah salah satu kemenangan Islam kala itu. Islam kala itu telah memiliki Hamzah sang “Singa Padang Pasir”, lalu bertambah kuat dengan ‘Umar Ibn Khaththab.

Hijrahnya ‘Umar ini menjadi kabar gembira bagi kaum Muslimin. Kaum Muslimin lebih berani menunjukkan keislamannya. Masuknya ‘Umar ke dalam Islam ini sebagaimana yang dikatakan ‘Abdullah Ibn Mas’ud, “Masuknya Umar dalam Islam adalah pembukaan. Hijrahnya adalah kemenangan, kekuasaannya adalah rahmat. Sungguh kami menyadari diri kami sebelumnya tidak mampu melaksanakan shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Ketika masuk Islam, ia memerangi mereka dan membiarkan kami shalat.

Hijrahnya ‘Umar merupakan berkah, maka sang Nabi pun bersabda, “Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar Ibn Khaththab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk unta-unta mereka.
Kepemimpinan beliau adalah suatu teladan dan juga diimpikan. Ketegasan, fisik yang kuat, wibawa, cermatnya dalam mengambil keputusan, dan keberanian yang semuanya dilingkupi oleh cahaya Islam merupakan sebuah kemenangan.

Di bawah kepemimpinannya, kejayaan Islam terus berkembang dan bertambah besar pengaruhnya. Pada masanya, Islam berekspansi hingga wilayah kekuasaan Islam meliputi seluruh Jazirah Arab, Palestina, Syria, sebagian wilayah Persia, Mesir, Kufah, Basrah, hingga beberapa bagian Afrika.
Inilah hijrahnya ‘Umar Ibn Khaththab, yang keputusannya memeluk Islam menjadi kemenangan bagi islam.

Berbahagialah berislam, berbahagialah mereka yang pada akhirnya memutuskan berhijrah menuju Islam. Berhijrah memeluk Islam akan memuliakan mereka yang memeluknya, seperti apa yang dikatakan ‘Umar, “Wahai kaum Muslimin, kita dulu dalam keadaan yang hina dina, kemudian Islam datang dan kita menjadi mulia karenanya. Camkanlah, jika kita meninggalkan Islam setelah ini, maka Allah tentu akan kembali menghinakan diri kita.

Maka, pada momen 1 Muharram 1436 Hijriah ini sudah selayaknya kita berefleksi sejauh mana keislaman kita, sejauh mana kemanfaatan kita sebagai seorang manusia dan seorang muslim, karena Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kisah ‘Umar sesungguhnya menjadi teladan dan inspirasi, bagaimana seseorang yang pada mulanya menentang Islam justru membawa kemuliaan dan kemenangan bagi islam bahkan menjadi sahabat dari Rasulullah.
Hijrah dari kejahiliyyahan / kebodohan kita kembali menuju cahaya Islam, yang lalu kita memperbaiki diri dan menshalihkan pribadi. Dari keshalihan pribadi ini meluas sehingga menjadi keshalihan sosial.

Semoga kita bisa berhijrah dan memberikan kemanfaat seluas-luasnya bagi Islam, Indonesia, dan dunia.


Penulis: Firman Maulana, PPSDMS Reg. 2 Bandung Angkatan 7
Dimuat di: http://www.dakwatuna.com/2014/10/31/59239/tahun-baru-islam-umar-dan-momen-berhijrah/

Rabu, 29 Oktober 2014

Tantangan Perencanaan Pembangunan Kabinet Baru


Pembentukan kabinet baru di bawah kepemimpinan Presiden baru ini menghasilkan nama menteri yang diyakini berkompeten memengang pos pos di kementrian ini. Andrinof A Chaniago ahli kebijakan publik dan perencanaan dipercaya Jokowi dan Jusuf Kala menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dan Bambang Brodjonegoro ahli ekonomi pembangunan dan ekonomi regional dipercaya menjabat sebagai menteri Keuangan. Kedua kementrian ini mempunyai peran penting dalam berkolaborasi menyelesaikan tatangan perencanaan pembangunan nasional.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan terhadap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas sebelumnya, Prof. Dr. Armida Salsiah Alisjahbana, Tantangan perencanaan pembangunan ke depan adalah persoalan kemiskinan, persoalan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), persoalan MP3EI, dan juga visi dan misi presiden serta wakil presiden. Tantangan ini merupakan tantangan kementrian bappenas bagaimana mengkoordinasikan pembangunan yang mengarahkan kepada penyelsaian masalah dan tantangan mentri keuangan dalam mengelola anggaran yang dapat mendukung perencanaan-perencanaan yang dibuat.
Jika dilihat secara makro, persoalan tersebut merupakan Tantangan besar bagi perencanaan di Indonesia kemudian. Bagaimana kementrian bisa berkoordinasi dengan baik, bagaimana bisa perencanaan yang dibuat secara nasional ini dapat menjadi acuan dalam membuat perencanaan level di provinsi maupun kota dan bagaimana sumber pembiayaan pembangunan besar itu di dapat. Sementara pada tahun ini dana alokasi APBN dari pendapatan negara sebesar Rp. 1.667,1 Trilliun kita pun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pengeluaran belanja negara yang mencapai Rp.1842,5 triliun, itu pun belum termasuk kebutuhan pengeluaran pembiayaan pembangunan. Mau tidak mau negara harus mencari sumber pendapatan lain untuk menutupi defisit kebutuhan anggaran tadi salah satunya adalah meminjam.
BAPPENAS seperti yang sudah disebutkan diatas, memegang fungsi koordinasi dalam perencanaan pembangunan. Bapenas juga seharusnya dapat berfungsi sebagai penentu arah, meminimalisir ketidakpastian dalam pembangunan, memaksimalkan efisiensi sumberdaya dan menentukan standar dalam pengawasan kualitas perencanaan pembangunan. Jadi peran BAPPENAS sangat penting dan strategis dalam merumuskan rencana rencana tersebut.
Ketentuan mengenai arah pembangunan ini pada hakikatnya akan menjadi arah perencanaan dalam bentuk dokumen. Dokumen-dokumen perencanaan pada UU No. 25 Tahun 2004 diantaranya adalah RPJP, RPJM, RESNSTRA, RKP, dan RENJA. Meskipun masing masing pelaksanaannya mempunyai rentang waktu rencana yang berbeda-beda tetapi tetap setiap rencana ini harus saling berkaitan satusamalain.
Kabinet baru bukan berarti tantangan baru, akan tetapi masih banyak tantangan tantangan pemerintahan sebelumnya yang masih belum terselesaikan. Fungsi Koordinasi dan Fungsi kebijakan fiskal sangatlah penting dalam menentukan perencanaan. Sehingga kementrian yang baru ini diharapkan menyusun rencana dengan mengacu perencanaan-perencanaan sebelumnya yang disesuaikan sehingga dapat menjadi satu paket dokumen peraturan yang strategis, issue-oriented, dan lintas-sektoral dengan memperhatikan kecendrungan global dan pembangunan di Indonesia.
Penulis: Izzuddin Abdul Aziz, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung

Membangkitkan Kembali Makna Sumpah Pemuda

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia
SuaraJakarta.co, JAKARTA - Kalimat-kalimat sumpah pemuda itu kembali bergema dan menghiasi berbagai macam headline media massa ataupun media sosial beberapa hari ini. Wajar saja, sejak 86 tahun yang lalu tepat di tanggal ini, perisitiwa sumpah pemuda benar-benar telah mengubah nasib Bangsa Indonesia. Sumpah pemuda yang merupakan hasil keputusan kongres para pemuda yang berasal dari hampir seluruh daerah di Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia itu telah menjadi salah satu tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia. Sumpah pemuda seakan menjadi obor semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia saat itu. Dan yang perlu kita ketahui, semangat perjuangan dan persatuan para pemuda merebut kemerdekaan dari para penjajah ketika itu benar-benar ikhlas mereka lakukan untuk bangsa tercinta.
Peristiwa sumpah pemuda lantas menjadi inspirasi bagi pergerakan-pergerakan para pemuda kedepannya. Para pemuda bersatu, bersinergi, dan berkolaborasi bersama melakukan sebuah perubahan bagi kebaikan bangsa ini. Kita tak akan pernah lupa dengan peristiwa tahun 1998 yang memaksa Presiden Soeharto mengakhiri kepemimpinannya selama 32 tahun. Ketika itu, para pemuda dengan lantang menyuarakan argumennya di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) demi kebaikan bangsa ini. Mereka tetap menjaga idealisme dan semangat mereka demi tercapainya satu tujuan: REFORMASI!
Lantas, bagaimanakah kondisi para pemuda Indonesia sekarang? Apakah para pemuda kita masih belajar dari peristiwa sumpah pemuda dalam setiap tindakan yang mereka lakukan? Untuk menjawabnya, mari kita berkaca pada realita yang sedang terjadi di kalangan para pemuda. Kasus-kasus tawuran pelajar, pembunuhan, serta kasus asusila lainnya menunjukkan bahwa sebagian pemuda telah kehilangan makna persatuan dari peristiwa sumpah pemuda. Selain itu, juga banyak tindakan tak terpuji lainnya yang seakan telah menjadi ciri khusus para kaum muda sekarang seperti mencontek dan melupakan budaya asli Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa makna persatuan, idealisme, maupun semangat dari peristiwa sumpah pemuda sudah mulai terkisis.
Tapi, yang perlu kita ingat, juga ada banyak pemuda yang tetap menjunjung tinggi makna sumpah pemuda. Ada banyak pemuda yang terus semangat berpendapat dan berargumen demi kemajuan bangsa ini walaupun sebagian tidak langsung turun ke jalanan seperti zaman dulu karena kondisi demokrasi yang cukup stabil sekarang. Ada juga pemuda yang berusaha melestarikan kebudayaan bangsa ini agar tetap menjadi sebuah tatanan nilai yang utuh. Dan yang tidak boleh kita lupakan, ada banyak pemuda yang tetap bermimpi tinggi, semangat belajar, dan terus berkarya menorehkan tinta emasnya untuk kebaikan bangsa ini.
Sumpah pemuda mengajarkan kita bahwa seorang pemuda harus mempunyai mimpi yang tinggi, dan mampu beraksi nyata mewujudkan mimpi itu. Selain itu, seorang pemuda juga harus mampu menjadi perangkai mozaik persatuan sehingga menghasilkan keutuhan Bangsa ini. Seorang pemuda juga harus senantiasa belajar di kehidupan ini. dan tidak boleh merasa pandai, tetapi harus “pandai merasa” kondisi sekitarnya. Oleh karena itu, mari kita bangkitkan kembali makna sumpah pemuda sekarang agar nilai-nilai positif yang terkandung di dalamnya mampu diterapkan di kemudian hari agar Bangsa Indonesia mampu meraih kejayannya kelak.

Penulis: Haris Askari, Mahasiswa Institut Teknologi Bandung
 
Copyright © 2014 PPSDMS Bandung