BREAKING NEWS
Tampilkan postingan dengan label Firman Maulana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Firman Maulana. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 November 2014

Visualisasi Mimpi: Firman Maulana




Visualisasi Mimpi
2015: Nuril 2.0. Era Baru Nurul Ilmi FMIPA Unpad.
2016: Lulus S-1 Matematika FMIPA Unpad, Firman Maulana S.Mat.
2017: Full Scholarship ke TU Delft, Belanda, program Master (M.Sc) Computational & Science Engineering (CSE).
2018: Europe Tour
2019: Mengabdi untuk Almamater, Menjadi Pengajar di Matematika FMIPA Unpad.
2020: Menikah... tentram, cinta, kasih sayang.
2024: Mendirikan "Maulana Foundation", LSM yang bergerak di bidang pendidikan.
2025: Umrah bersama orangtua dan kakak.
2030: Melaksanakan ibadah haji bersama istri
2032: Full Scholarship ke Tokyo University, Jepang, program Doktor (Ph.D) Mathematical Informatics
2038: Mengabdi, berkarya dan berkontribusi bagi tanah kelahiran, Walikota Bandung 2038 - 2043.
2045: Menyemai manfaat di ranah lain, Dewan Direksi Persib Bandung.

Jumat, 31 Oktober 2014

Tahun Baru Islam, Umar, dan Momen Berhijrah

Kita baru saja memasuki 1 Muharram 1436 Hijriah, artinya kita baru saja memasuki tahun baru dalam penanggalan Islam (Hijriah). Memang, di dalam ajaran Islam tidak ada perayaan khusus untuk menyambut tahun baru ini. Namun, sering kali momen tahun baru ini menjadi momen refleksi dan introspeksi atas apa yang telah dikerjakan selama satu tahun.
Momen tahun baru ini juga sering kali disebut sebagai momen untuk berhijrah, karena penanggalan Hijriah ini dihitung sejak Rasulullah dan para sahabat berhijrah dari Mekkah al-Mukarromah menuju Madinah al-Munawwaroh.

Maka, tahun baru Islam berarti berhijrah, hijrah ini selain berarti peristiwa pindahnya Rasulullah dan para sahabat ke Madinah, namun dimaknai pula sebagai peristiwa berpindahnya seseorang dari keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik, dari gelapnya kejahiliyyahan menuju terang benderangnya cahaya Islam.
Karenanya, menarik untuk menyimak bagaimana hijrahnya para sahabat dari kejahiliyyahan menuju Islam, salah satunya adalah ‘Umar Ibn Khaththab, Khalifah Kedua Islam sekaligus pencetus penanggalan Hijriah.


***


‘Umar bin Khaththab, nama yang akrab didengar bagi umat Islam. Sahabat Nabi yang juga Khalifah Kedua Islam. Kisah hijrahnya ‘Umar ke dalam Islam merupakan kisah yang mahsyur. ‘Umar merupakan sosok yang disegani, berperawakan tinggi besar, seorang yang keras hingga lawan pun takut dibuatnya.

Potensi luar biasa ‘Umar bin Khaththab tentunya akan menjadi kekuatan besar bagi Islam, hingga Rasulullah pun berdoa, “Ya Allah, perkuatlah Islam dengan salah satu dari dua ‘Amr yang lebih Kau cintai: ‘Umar ibn Al Khaththab atau ‘Amr ibn Hisyam.” Maka, Allah lebih ridha ‘Umar Ibn Khaththab yang memeluk Islam ketimbang ‘Amr Ibn Hisyam alias Abul Hakam atau Abu Jahl.

Bermula dari suara adiknya, Fathimah binti Khaththab yang membacakan surah Thaahaa, ‘Umar marah hingga melukai adiknya. Namun, ia malah membaca lembaran surah Thaahaa yang dibaca adiknya. Di sinilah momen hidayah muncul. ‘Umar akhirnya mendatangi Rasulullah yang sedang berada di rumah Arqam Ibn Abi Arqam.
‘Umar sempat dihadang Hamzah Ibn Abdul Muthallib sebelum akhirnya bertemu Rasulullah dan mengatakan dua kalimat syahadat. Allahu Akbar! Maka inilah salah satu kemenangan Islam kala itu. Islam kala itu telah memiliki Hamzah sang “Singa Padang Pasir”, lalu bertambah kuat dengan ‘Umar Ibn Khaththab.

Hijrahnya ‘Umar ini menjadi kabar gembira bagi kaum Muslimin. Kaum Muslimin lebih berani menunjukkan keislamannya. Masuknya ‘Umar ke dalam Islam ini sebagaimana yang dikatakan ‘Abdullah Ibn Mas’ud, “Masuknya Umar dalam Islam adalah pembukaan. Hijrahnya adalah kemenangan, kekuasaannya adalah rahmat. Sungguh kami menyadari diri kami sebelumnya tidak mampu melaksanakan shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Ketika masuk Islam, ia memerangi mereka dan membiarkan kami shalat.

Hijrahnya ‘Umar merupakan berkah, maka sang Nabi pun bersabda, “Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’ala mengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar Ibn Khaththab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk unta-unta mereka.
Kepemimpinan beliau adalah suatu teladan dan juga diimpikan. Ketegasan, fisik yang kuat, wibawa, cermatnya dalam mengambil keputusan, dan keberanian yang semuanya dilingkupi oleh cahaya Islam merupakan sebuah kemenangan.

Di bawah kepemimpinannya, kejayaan Islam terus berkembang dan bertambah besar pengaruhnya. Pada masanya, Islam berekspansi hingga wilayah kekuasaan Islam meliputi seluruh Jazirah Arab, Palestina, Syria, sebagian wilayah Persia, Mesir, Kufah, Basrah, hingga beberapa bagian Afrika.
Inilah hijrahnya ‘Umar Ibn Khaththab, yang keputusannya memeluk Islam menjadi kemenangan bagi islam.

Berbahagialah berislam, berbahagialah mereka yang pada akhirnya memutuskan berhijrah menuju Islam. Berhijrah memeluk Islam akan memuliakan mereka yang memeluknya, seperti apa yang dikatakan ‘Umar, “Wahai kaum Muslimin, kita dulu dalam keadaan yang hina dina, kemudian Islam datang dan kita menjadi mulia karenanya. Camkanlah, jika kita meninggalkan Islam setelah ini, maka Allah tentu akan kembali menghinakan diri kita.

Maka, pada momen 1 Muharram 1436 Hijriah ini sudah selayaknya kita berefleksi sejauh mana keislaman kita, sejauh mana kemanfaatan kita sebagai seorang manusia dan seorang muslim, karena Rasulullah bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Kisah ‘Umar sesungguhnya menjadi teladan dan inspirasi, bagaimana seseorang yang pada mulanya menentang Islam justru membawa kemuliaan dan kemenangan bagi islam bahkan menjadi sahabat dari Rasulullah.
Hijrah dari kejahiliyyahan / kebodohan kita kembali menuju cahaya Islam, yang lalu kita memperbaiki diri dan menshalihkan pribadi. Dari keshalihan pribadi ini meluas sehingga menjadi keshalihan sosial.

Semoga kita bisa berhijrah dan memberikan kemanfaat seluas-luasnya bagi Islam, Indonesia, dan dunia.


Penulis: Firman Maulana, PPSDMS Reg. 2 Bandung Angkatan 7
Dimuat di: http://www.dakwatuna.com/2014/10/31/59239/tahun-baru-islam-umar-dan-momen-berhijrah/

Senin, 27 Oktober 2014

Pemuda Indonesia, Dari Sumpah Pemuda Hingga Kini

28 Oktober 1928, kita kenal sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda yang merupakan peristiwa bersejarah dikenal sebagai salah satu tonggak bersatunya bangsa Indonesia. Para pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul bersama di Kongres Pemuda. Pada saat itulah dihasilkan tiga hal penting: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada Kongres Pemuda ini pula lagu Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan oleh Wage Rudolf Soepratman melalui gesekan biolanya.
Dalam sejarah bangsa ini, Pemuda selalu menjadi penggerak kebangkitan bangsa. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 adalah contoh nyata. Selain itu, peristiwa lain yang menunjukkan betapa pentingnya peran pemuda adalah Peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945. Para Pemuda pada saat itu yang dipimpin Soekarni, Wikana, serta Chairul Saleh menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dengan satu tujuan: mendesak mereka agar mempercepat proklamasi Indonesia. Upaya ini akhirnya berhasil, esok harinya, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sekali lagi pemuda memainkan peran penting bagi bangsa.
Peran pemuda dalam sejarah bangsa terus berlanjut, gerakan mahasiswa 1966 adalah kisah lainnya. Dilatarbelakangi kondisi pemerintahan saat itu, gerakan mahasiswa pada 1966 menjadi awal kebangkitan mahasiswa secara nasional. Mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) ini memunculkan Tri Tura (Tiga tuntutan rakyat), yakni: Bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya; perombakkan Kabinet Lamira; dan turunkan harga sembako. Serangkaian demonstrasi yang dilakukan akhirnya berujung pada Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) yang menandai akhirnya Orde Lama dan membuka Orde Baru.
Pemuda lagi-lagi menunjukkan perannya pada tahun 1998. Mahasiswa menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme).. Peristiwa 1998 ini juga diiringi dengan berbagai tindakan represif pemerintah yang mengakibatkan tragedi-tragedi seperti Tragedi Cimanggis, Tragedi Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, serta Tragedi Lampung. Tindakan represif ini mengakibatkan tewasnya aktivis mahasiswa, sipil dan ratusan korban luka. Paling fenomenal adalah ketika mahasiswa berhasil menduduki Gedung DPR / MPR. Pada akhirnya Presiden Soeharto saat itu melepaskan jabatannya sekaligus menandai berakhirnya Orde Baru menuju Orde Reformasi. Ini menjadi salah satu gerakan terbesar mahasiswa karena mengubah tatanan kehidupan.
Kini, kondisi bangsa telah berubah, 86 tahun pasca Sumpah Pemuda, kondisi pemuda Indonesia pun berbeda. Serangkaian aksi dan gerakan pemuda atau mahasiswa pada masa lalu tentunya didasari rasa cinta terhadap Indonesia. Rasa cinta yang menggelora itu dibarengi pula oleh kecerdasan intelektual, ketajaman berpikir, dan semangat pergerakan.
Sekarang mungkin berbeda, rasa cinta negeri sendiri tak sekuat dulu. Dari segi budaya misalnya, pemuda Indonesia kini barangkali lebih hafal dan lebih mengenal budaya asing dibanding budaya sendiri. Ramai pemuda-pemuda sekarang ini menggandrungi budaya Korea Selatan, Jepang dan lainnya, lalu lupa akan budaya Indonesia atau budaya di daerahnya sendiri.
Ada dua kebiasaan yang kini mulai berkurang di kalangan pemuda dan mahasiswa: banyak membaca dan berdiskusi. Padahal, dua hal inilah yang memengaruhi kualitas seseorang. Dua hal ini juga akan melatih ketajaman berpikir, analisis, serta masuknya pengetahuan, wawasan, dan inspirasi. Tentunya masih ada memang yang gemar membaca dan berdiskusi, namun jumlahnya sedikit.
Di momen 86 tahun Sumpah Pemuda, sudah saatnya pemuda Indonesia kembali memaknai Sumpah Pemuda, berefleksi dan membayangkan bagaimana dulu para pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk bangsa Indonesia. Indonesia kini sudah merdeka, namun semangat Sumpah Pemuda jangan sampai luntur, mungkin hanya tujuannya yang sedikit berbeda, tujuannya kini bagaimana agar bangsa ini bisa jauh lebih baik dan bermartabat.
Dengan segala potensi, kekreatifan, semangat dan keaktifan para pemuda, Indonesia tentunya harus bisa menjadi negara yang maju dan berkembang pesat.
Penulis: Firman Maulana, Mahasiswa Program Studi Matematika FMIPA Universitas Padjadjaran Angkatan 2012
 
Copyright © 2014 PPSDMS Bandung